Senin, 07 Juli 2014

UJIAN AKHIR SEMESTER KRITIK SENI RUPA 2 (Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang)

UJIAN AKHIR SEMESTER
KRITIK SENI RUPA 2




NAMA: FITRIANA
NIM: 2401411018
KRITIK SENI RUPA 207-208


DOSEN PENGAMPU:
 EKO SUGIARTO, S.Pd., M.Pd



PENDIDIKAN SENI RUPA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG





1.      Bagaimana tanggapan anda sebagai seorang “pengamat seni” terhadap fenomena budaya visual yang mulai terasa saat ini?
Jawab:
Merujuk pada pernyataan diatas dapat di ambil suatu kesimpulan bahwa fenomena budaya visual tidak mementingkat tersampainya pesan dari gambar itu sendiri. Namun budaya visual saat ini cenderung mementingkan tersampaikannya pesan-pesan,ide gagasan dari suatu ikalan yang ingin di publikasikan. Hal itu bisa di identifikasi antaranya, kecanggihan teknologi yang matang di era sekarang telah memasuki dunia di mana teknologi menjadi penguasa. Dalam artian dengan kemutahiran dan kecanggihan teknologi apapun yang diinginkan mampu terjangkau, sehinggan seseorang cenderung merasa asyik dengan kecanggihan teknologi.
       Dalam pembahasan mengenai menurunnya budaya visual pada iklan ini dapat dikatankan bahwa adanya pengaruh dari kecanggihan teknologi. Nilai estetik di era sekarang khususnya pada iklan mungkin akan sulit tersalurkan oleh konsumen jika suatu iklan menonjolkan keindahan terhadap objek iklan. Suatu iklan akan mampu tersampaikan oleh konsumen jika objek dan gagasan yang ingin di sampaikan saling berhubungan.
         Menurut pengamatan saya, fenomena budaya visual sekarang mampu dikatakan memasuki fase perubahan yang pesat. Contoh kemasan-kemasan makanan atau bahkan iklan rokok di masa 80 an sampai sekarang mengalami perubahan yang berjenjang. Pada masa-masa sekarang iklan-iklan lebih terkesan sederhana, dan tujuannya sangat di perhatikan. Sekarang iklan-iklan rokok tidak menonjolkan objek rokoknya melainnya langsung pada tujuan penggunaan rokok tersebut untuk siapa. Kondisi ini mematikan pemikiran nilai estetik terhadap karya visual yang notabene hanya terpengaruh oleh kecanggihan teknologi.
     Penyampaian makna dan gagasan dari iklan pada masa sekarang, lebih mengutamakan dengan menyampingkan secara pencitraan. Pencitraan yang mengundang suatu opini di timbulkan oleh konsumen, yang kemudian muncul suatu gambaran semu yang didapat dari pengalaman dan pengetahuan konsumen setelah mengamati suatu objek visual. Artinya saat melihat iklan konsumen akan memberikan opini yang berbeda terhadap iklan tersebut. Pengamatan seseorang terbilang ada yang cepat tanggap dan lambat, ada yang cepat mengerti akan pencitraan iklan rokok tersebut, ada pula lamban dalam memahami pencitraan iklan rokok itu.
Kembali lagi bahwa tujuan dari suatu subtansi sekarang tidak mementingkan objek visual yang di tonjolkan, namun lebih mengarah pada tujuan yang lebih mengarah pada sosok orangnya. Rokok identik dengan kaum pria, banyak subtansi suatu iklan menggunakan subjek seorang pria dalam iklan rokok, namun tidak menunjukan objek rokok secara utuh. Terkadang untuk memahami hal tersebut memang dirasa sulit, namun bisa tidaknya untuk memahami hal itu memang harus dilakukan. Karena perkembangan teknologi yang pesat pula, sehingga apalah arti objek secara visual di tonjolkan apabila maksud dan tujuan yang ingin disampaikan mampu dipublikasikan secara mudah dan lebih realistik siapa tujuan dari iklan yng ingin ditujukan*kaum pria 17+.
Menurut saya, fenomena ini memang mengarah pada  perubahan yang terkadang harus diubah. Karena tidak mungkin suatu era baru yang di pengaruhi oleh membludaknya kecanggihan teknologi memperngaruhi  perkembangan seni khususnya seni rupa mengalami kemunduran. Variasi-variasi dalam dunia seni rupa sudah mampu mengikuti perkembangan teknologi. Ketercapaian seni rupa untuk tetap sejalan dengan perkembangan teknologi sekarang dibuktikan dengan maraknya iklan yang hanya mengandalkan pencitraan dari merk rokok tersebut.
Hal itu menjadi tidak masalah apabila dunia seni rupa ikut serta dalam perkembangan teknologi saat ini dan terkadang hal yang sederhana di perlukan dan di wajibkan di masa-masa yang akan datang. Kenapa tidak jika suatu karya disajikan sedemikian rupa  untuk menimbulkan opini terhadap publik?. Jika hanya monoton dalam menanggapi perkembangan teknologi, seni rupa akan mengalami kemunduran walau nilai estetik sedikit terabaikan.

  
Kritik Seni Rupa
Semiotika

Karya by: Anis Pramita, ukuran 60x70cm oil painting on kanvas. Salah satu karya dalam pameran pendidikan seni rupa di SMA 3 Semarang.

1.      Deskripsi
Lukisan berjudul “Contekan” karya Anis Pramita ini merupakan salah satu karya pada pameran kelas pendidikan seni rupa di SMA 3 Semarang. Secara visual tampak perwujudan subjek pada lukisan tersebut terlihat sederhana. Background berwarna orange dengan sedikit gelap terang, terdapat subjek benda diantaranya yaitu 3 lembar kertas, handphone dan pensil. komposisi subjek terdapat di central atau tengah-tengan media kanvas. Objek ini disajikan secara dua dimensi dari depan  secara vetikal dan tidak ada pergerakan dalam penggambaran objek. Kertas terdapat tulisan berupa rumus. Bingkai sederhana dengan dasaran hitam dan space warna krem. Keseimbangan cenderung balance, antara sisi satu dan lainnya saling mengisi. Tekstur tidak di tampakkan dalam karya ini. Warna yang sederhana hanya memperlihatkan putih, abu-abu, hitam dan biru dengan background orange.

2.      Analisis
Secara proporsi bentuk kertas, handphone dan pensil ini diadopsi dari bentuk aslinya, namun bentuk subjek benda tersebut digarap tidak begitu realis, namun goresan yang ditampilkan pula masih terlihat sedikit kasar dan sedikit kaku pada goresan pewarnaa, seperti terlihat pada penggambaran background masih murat marit dalam penggoresan, terlihat goresan di sapukan secara vertikal ada pula yang di goreskan secara horisontal. Penggarapan karya ini didominasi warna putih pada penggambaran kertas dengan seniman telah memperhatikan gelap terang pada subjek kertas, sehingga kesan tiga dimensi tmampu dimunculkan. Namun akan lebih proporsi jika penggarapan subjek kertas di detail dengan lebih sempurna lagi. Di dalam selembar kertas tersebut bertuliskan sebuah beberapa rumus dengan pemberian  warna dasaran hitam dan sedikit terlihat blur.
Dalam menggoreskan warna pada subjek handphone juga terkesan kaku dan tidak ditampakkan bentuk secara realis. Gelap terang masih sedikit di wujudkan pada setiap objek yang di lukis. Kemudian untuk subjek pensil dengan peletakan di sebelah kanan atas memiliki posisi sebagai objek pelengkap, dalam hal keseimbangan. Dengan warna biru pada pensil memberikan kesan tidak jomplang terhadap ruang di sebelah kiri bawah yang terkesan penuh dan berat.
Namun Anis telah mampu mensiasatinya dengan meletakkan pensil pada ruang sebelah kanan atas agar keseimbangan tetap enak dipandang. Tekstur dalam lukisan ini tidak ditampakkan karena masuk dalam katagori karya 2 dimensi. Sapuan kuaspun masih dikatakan terlihat tipis-tipis dan tidak secara ekspresif dalam penggoresan.


3.      Interpretasi
Lukisan berjudul “Contekkan” telah jelas mengenai pesan apa yang ingin disampaikan oleh Anis Pramita ini. Di dalam dunia pendidikan saat ini tidak memungkiri bahwa kebiasaan anak-anak sekolah sekarang ini tidak jauh dari hal kecil yang sangat berpengaruh bagi mereka. Sesuatu hal kecil yang dapat dikatakan sebagai media pendukung mereka di saat pelaksanaan ujian. Apalagi di masa lukisan “Contekan” ini di pamerkan, telah terjadi dinamika kesimpang siuran paket ujian nasional di Indonesia.
Karya lukis ini merupakan karya lukisa yang bersifat kritikan terhadap siswa-siswa sekolah, terbukti dari penggambaran subjek kertas, handphone dan pensil. Tiga buah objek yang telah melekat pada diri tiap siswa sekolah di era sekarang. Tidak memungkiri bahwa adanya UN siswa menjadi bertindak curang. Hubungan kondisi ini antaranya dalam karya ini, pensil biru dalam lukisan ini dapat dikatakan tergolong pensil 2B. Dalam pencitraannya Anis ingin menyampaikan bahwa pensil dengan ketebalan 2B selalu identik dengan alat tulis yang wajib dibawa siswa saat UN berlangsung.
Kemudian contekan selalu identik dengan ukuran kecil, sedikit usang dan terdapat rumus-rumus atau pernyataan jawaban, dari identifikasi itu dapat dikatan bahwa hal itu disimbolkan suatu contekan. Dan dalam karya tersebut terdapat pula sebuah handphone, terkadang tidak masuk akal mempergunakan handphone saat UN. Namun Anis ingin menyampaikan bahwa saat ini penggunaan handphone dimanfaatkan siswa-siswi peserta ujian untuk mendapatkan jawaban dari berbagai sumber. Sumber baik dari teman sekelas atau bahkan luar sekolah. Anis ingin memberikan indek atau penanda atau bahkan pemberitahuan bahwa inilah handphone media komunikasi yang dimanfaatkan siswa untuk mendapatkan jawaban saat ujian. Dan terakhir yang paling ditonjolkan dalam karya Anis ini adalah sebuah kertas yang bertuliskan suatu rumus fisika. Rumus fisika yang selalu terkait dengan pelajaran paling sukar di tiap jenjang sekolah.
4.      Penilaian

Karya ini sudah dapat dikatakan bagus, namun masih ada beberapa kekurangan dalam hal proporsi bentuk dan penyapuan kuas, atau masih terlihat kaku. Ada pun kelebihannya yaitu konsistensi pengambilan objek gambar yang sesuai dengan dinamika dunia pendidikan. Anis telah mampu memaddupadankan kedua nya dalam sebuah karya yang disajikan secara apik dan mengena pada sasarannya. Dan mengesankan karena objek yang dia sajikan merupakan suatu pencitraan dan sindiran terhadap anak-anak atau siswa siswi pada jenjang pendidikan sekolah saat ini. Karya Anis ini telah mampu mengenai sasaran yaitu pada publik khususnya anak-anak sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar