UJIAN AKHIR SEMESTER
KRITIK SENI RUPA 2
NAMA:
FITRIANA
NIM:
2401411018
KRITIK
SENI RUPA 207-208
DOSEN
PENGAMPU:
EKO SUGIARTO, S.Pd., M.Pd
PENDIDIKAN
SENI RUPA
FAKULTAS
BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS
NEGERI SEMARANG
1.
Bagaimana
tanggapan anda sebagai seorang “pengamat seni” terhadap fenomena budaya visual
yang mulai terasa saat ini?
Jawab:
Merujuk pada
pernyataan diatas dapat di ambil suatu kesimpulan bahwa fenomena budaya visual
tidak mementingkat tersampainya pesan dari gambar itu sendiri. Namun budaya
visual saat ini cenderung mementingkan tersampaikannya pesan-pesan,ide gagasan
dari suatu ikalan yang ingin di publikasikan. Hal itu bisa di identifikasi
antaranya, kecanggihan teknologi yang matang di era sekarang telah memasuki
dunia di mana teknologi menjadi penguasa. Dalam artian dengan kemutahiran dan
kecanggihan teknologi apapun yang diinginkan mampu terjangkau, sehinggan
seseorang cenderung merasa asyik dengan kecanggihan teknologi.
Dalam pembahasan mengenai menurunnya
budaya visual pada iklan ini dapat dikatankan bahwa adanya pengaruh dari
kecanggihan teknologi. Nilai estetik di era sekarang khususnya pada iklan
mungkin akan sulit tersalurkan oleh konsumen jika suatu iklan menonjolkan
keindahan terhadap objek iklan. Suatu iklan akan mampu tersampaikan oleh
konsumen jika objek dan gagasan yang ingin di sampaikan saling berhubungan.
Menurut pengamatan saya, fenomena
budaya visual sekarang mampu dikatakan memasuki fase perubahan yang pesat.
Contoh kemasan-kemasan makanan atau bahkan iklan rokok di masa 80 an sampai
sekarang mengalami perubahan yang berjenjang. Pada masa-masa sekarang iklan-iklan
lebih terkesan sederhana, dan tujuannya sangat di perhatikan. Sekarang
iklan-iklan rokok tidak menonjolkan objek rokoknya melainnya langsung pada
tujuan penggunaan rokok tersebut untuk siapa. Kondisi ini mematikan pemikiran
nilai estetik terhadap karya visual yang notabene hanya terpengaruh oleh
kecanggihan teknologi.
Penyampaian
makna dan gagasan dari iklan pada masa sekarang, lebih mengutamakan dengan
menyampingkan secara pencitraan. Pencitraan yang mengundang suatu opini di
timbulkan oleh konsumen, yang kemudian muncul suatu gambaran semu yang didapat
dari pengalaman dan pengetahuan konsumen setelah mengamati suatu objek visual. Artinya
saat melihat iklan konsumen akan memberikan opini yang berbeda terhadap iklan
tersebut. Pengamatan seseorang terbilang ada yang cepat tanggap dan lambat, ada
yang cepat mengerti akan pencitraan iklan rokok tersebut, ada pula lamban dalam
memahami pencitraan iklan rokok itu.
Kembali lagi bahwa
tujuan dari suatu subtansi sekarang tidak mementingkan objek visual yang di
tonjolkan, namun lebih mengarah pada tujuan yang lebih mengarah pada sosok
orangnya. Rokok identik dengan kaum pria, banyak subtansi suatu iklan
menggunakan subjek seorang pria dalam iklan rokok, namun tidak menunjukan objek
rokok secara utuh. Terkadang untuk memahami hal tersebut memang dirasa sulit,
namun bisa tidaknya untuk memahami hal itu memang harus dilakukan. Karena
perkembangan teknologi yang pesat pula, sehingga apalah arti objek secara
visual di tonjolkan apabila maksud dan tujuan yang ingin disampaikan mampu
dipublikasikan secara mudah dan lebih realistik siapa tujuan dari iklan yng
ingin ditujukan*kaum pria 17+.
Menurut saya,
fenomena ini memang mengarah pada
perubahan yang terkadang harus diubah. Karena tidak mungkin suatu era
baru yang di pengaruhi oleh membludaknya kecanggihan teknologi
memperngaruhi perkembangan seni
khususnya seni rupa mengalami kemunduran. Variasi-variasi dalam dunia seni rupa
sudah mampu mengikuti perkembangan teknologi. Ketercapaian seni rupa untuk
tetap sejalan dengan perkembangan teknologi sekarang dibuktikan dengan maraknya
iklan yang hanya mengandalkan pencitraan dari merk rokok tersebut.
Hal itu menjadi
tidak masalah apabila dunia seni rupa ikut serta dalam perkembangan teknologi
saat ini dan terkadang hal yang sederhana di perlukan dan di wajibkan di
masa-masa yang akan datang. Kenapa tidak jika suatu karya disajikan sedemikian
rupa untuk menimbulkan opini terhadap
publik?. Jika hanya monoton dalam menanggapi perkembangan teknologi, seni rupa
akan mengalami kemunduran walau nilai estetik sedikit terabaikan.
Kritik Seni Rupa
Semiotika
Karya by: Anis
Pramita, ukuran 60x70cm oil painting on kanvas. Salah satu karya dalam pameran
pendidikan seni rupa di SMA 3 Semarang.
1.
Deskripsi
Lukisan berjudul
“Contekan” karya Anis Pramita ini merupakan salah satu karya pada pameran kelas
pendidikan seni rupa di SMA 3 Semarang. Secara visual tampak perwujudan subjek
pada lukisan tersebut terlihat sederhana. Background berwarna orange dengan
sedikit gelap terang, terdapat subjek benda diantaranya yaitu 3 lembar kertas,
handphone dan pensil. komposisi subjek terdapat di central atau tengah-tengan
media kanvas. Objek ini
disajikan secara dua dimensi dari depan
secara vetikal dan tidak ada pergerakan dalam penggambaran objek. Kertas
terdapat tulisan berupa rumus. Bingkai sederhana dengan dasaran hitam dan space
warna krem. Keseimbangan cenderung balance, antara sisi satu dan lainnya saling
mengisi. Tekstur tidak di tampakkan dalam karya ini. Warna yang sederhana hanya
memperlihatkan putih, abu-abu, hitam dan biru dengan background orange.
2.
Analisis
Secara proporsi
bentuk kertas, handphone dan pensil ini diadopsi dari bentuk aslinya, namun
bentuk subjek benda tersebut digarap tidak begitu realis, namun goresan yang ditampilkan
pula masih terlihat sedikit kasar dan sedikit kaku pada goresan pewarnaa,
seperti terlihat pada penggambaran background masih murat marit dalam
penggoresan, terlihat goresan di sapukan secara vertikal ada pula yang di
goreskan secara horisontal. Penggarapan karya ini didominasi warna putih pada
penggambaran kertas dengan seniman telah memperhatikan gelap terang pada subjek
kertas, sehingga kesan tiga dimensi tmampu dimunculkan. Namun akan lebih proporsi
jika penggarapan subjek kertas di detail dengan lebih sempurna lagi. Di dalam
selembar kertas tersebut bertuliskan sebuah beberapa rumus dengan
pemberian warna dasaran hitam dan
sedikit terlihat blur.
Dalam
menggoreskan warna pada subjek handphone juga terkesan kaku dan tidak
ditampakkan bentuk secara realis. Gelap terang masih sedikit di wujudkan pada
setiap objek yang di lukis. Kemudian untuk subjek pensil dengan peletakan di
sebelah kanan atas memiliki posisi sebagai objek pelengkap, dalam hal
keseimbangan. Dengan warna biru pada pensil memberikan kesan tidak jomplang
terhadap ruang di sebelah kiri bawah yang terkesan penuh dan berat.
Namun Anis telah
mampu mensiasatinya dengan meletakkan pensil pada ruang sebelah kanan atas agar
keseimbangan tetap enak dipandang. Tekstur dalam lukisan ini tidak ditampakkan
karena masuk dalam katagori karya 2 dimensi. Sapuan kuaspun masih dikatakan
terlihat tipis-tipis dan tidak secara ekspresif dalam penggoresan.
3.
Interpretasi
Lukisan
berjudul “Contekkan” telah jelas mengenai pesan apa yang ingin disampaikan oleh
Anis Pramita ini. Di dalam dunia pendidikan saat ini tidak memungkiri bahwa kebiasaan
anak-anak sekolah sekarang ini tidak jauh dari hal kecil yang sangat
berpengaruh bagi mereka. Sesuatu hal kecil yang dapat dikatakan sebagai media
pendukung mereka di saat pelaksanaan ujian. Apalagi di masa lukisan “Contekan”
ini di pamerkan, telah terjadi dinamika kesimpang siuran paket ujian nasional
di Indonesia.
Karya
lukis ini merupakan karya lukisa yang bersifat kritikan terhadap siswa-siswa
sekolah, terbukti dari penggambaran subjek kertas, handphone dan pensil. Tiga
buah objek yang telah melekat pada diri tiap siswa sekolah di era sekarang.
Tidak memungkiri bahwa adanya UN siswa menjadi bertindak curang. Hubungan kondisi
ini antaranya dalam karya ini, pensil biru dalam lukisan ini dapat dikatakan
tergolong pensil 2B. Dalam pencitraannya Anis ingin menyampaikan bahwa pensil
dengan ketebalan 2B selalu identik dengan alat tulis yang wajib dibawa siswa
saat UN berlangsung.
Kemudian
contekan selalu identik dengan ukuran kecil, sedikit usang dan terdapat
rumus-rumus atau pernyataan jawaban, dari identifikasi itu dapat dikatan bahwa hal
itu disimbolkan suatu contekan. Dan dalam karya tersebut terdapat pula sebuah
handphone, terkadang tidak masuk akal mempergunakan handphone saat UN. Namun
Anis ingin menyampaikan bahwa saat ini penggunaan handphone dimanfaatkan
siswa-siswi peserta ujian untuk mendapatkan jawaban dari berbagai sumber.
Sumber baik dari teman sekelas atau bahkan luar sekolah. Anis ingin memberikan
indek atau penanda atau bahkan pemberitahuan bahwa inilah handphone media
komunikasi yang dimanfaatkan siswa untuk mendapatkan jawaban saat ujian. Dan terakhir
yang paling ditonjolkan dalam karya Anis ini adalah sebuah kertas yang
bertuliskan suatu rumus fisika. Rumus fisika yang selalu terkait dengan
pelajaran paling sukar di tiap jenjang sekolah.
4.
Penilaian
Karya ini sudah
dapat dikatakan bagus, namun masih ada beberapa kekurangan dalam hal proporsi
bentuk dan penyapuan kuas, atau masih terlihat kaku. Ada pun kelebihannya yaitu
konsistensi pengambilan objek gambar yang sesuai dengan dinamika dunia
pendidikan. Anis telah mampu memaddupadankan kedua nya dalam sebuah karya yang
disajikan secara apik dan mengena pada sasarannya. Dan mengesankan karena objek
yang dia sajikan merupakan suatu pencitraan dan sindiran terhadap anak-anak
atau siswa siswi pada jenjang pendidikan sekolah saat ini. Karya Anis ini telah
mampu mengenai sasaran yaitu pada publik khususnya anak-anak sekolah.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar